Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas F “2010”
linadansenja.blogspot.com
KRITIK
SASTRA
CERPEN
“JAWA, CINA, MADURA NGGAK MASALAH.
YANG
PENTING RASANYA....”
Cerpen
ini sangat menarik, dari judulnya saja sudah membuat pembaca tersenyum dengan
berbagai macam ekspektasi di benak masing-masing. Judul yang digunakan penulis
cukup menggairahkan karena terkesan nakal dan erotis. Hal ini menjadi daya
tarik yang kuat untuk mengundang rasa ingin tahu pembaca tentang isi cerpen
tersebut. Memang sesuatu yang berbau erotisme selalu menjadi topik yang membuat
mata langsung melek dan berbinar bagi sebagian besar orang. Selain judulnya
yang mengundang rasa penasaran, hal lain yang menarik adalah isi cerita yang
dapat dikaji menggunakan berbagai macam pendekatan, antara lain adalah
feminisme dan sosiologi.
Dari
kaca mata feminisme, novel ini menghadirkan nafas feminisme dari tokoh seorang
istri yang suka menyuruh suaminya untuk membelikan perlengkapan kosmetik. Hal
ini tampak pada kutipan berikut.
“Tiap
hari kok melayani melulu dan selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar
sedikit leluasa bergerak.” (Anwar, 2014: 134).
Kutipan
tersebut merupakan bentuk pemberontakan seorang istri yang menuntut kesetaraan
kedudukan di dalam rumah tangga. Kekesalan sang istri karena capek dan bosan
melayani suami setiap hari dia luapkan dengan menyuruh suaminya melakukan hal
yang seharusnya dilakukan kaum wanita. Kegiatan membeli kosmetik bagi kaum pria
tentu merupakan suatu hal yang dianggap memalukan karena menurunkan derajat
kemaskulinannya. Bentuk pemberontakan tokoh istri kepada suaminya tersebut
terbilang lucu karena tidak berupa perlawanan dengan sikap yang ekstrim atau
perkataan yang kasar.
Sisi
sosiologi dari cerpen ini merupakan sebuah bagian yang lebih menarik untuk
diulas karena menghadirkan realitas sosial tentang kaum minoritas di negeri
ini. Cerpen ini menghadirkan tokoh Ko Han yang merupakan pria keturunan
Tionghoa yang tetap gigih menjalani hidup dengan kerja keras meski mengalamami
perlakuan diskriminasi yang menyakitkan. Hal ini tampak dari kutipan berikut.
“Dia tadi itu Cina ya?”
Lelaki berbaju merah itu mengangguk.
“Cina dan masih
muda kok menawarkan begituan,” kata saya. (Anwar, 2014: 136).
Kita yang merupakan
warga pribumi selalu menyebut etnis tionghoa dengan sebutan Cina, padahal kita
tahu bahwa mereka juga merupakan warga Indonesia yang diakui. Menyebut mereka
dengan sebutan Cina merupakan bentuk diskriminasi karena dengan menyebut mereka
seperti itu sama halnya dengan memunculkan sekat antara mayoritas dan
minoritas. Sama saja kita belum bisa menerima adanya kesetaraan hak di dalam
status kewarganegaraan yang sama. Kita tidak boleh membenci mereka karena mata
sipit dan warna kulit, mereka juga ingin mendapat perlakuan yang sama karena
memang sama-sama warga Indonesia. Hanya karena alasan perbedaan etnis kita
tidak boleh memperlakukan orang lain dengan tidak adil.
Tokoh Ko Han dalam
cerpen ini mempunyai kepribadian yang patut dijadikan teladan bagi kita. Meski
mengalami berbagai macam kepahitan hidup, namun ia terus bangkit dan bangkit
lagi. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.
“Sekarang saya
berpikir, mengapa Ko Han selalu menyebut-nyebut Jawa, Cina, dan Madura ketika
menawarkan. Ko Han dan keluarganya adalah korban huru-hara. Mereka adalah
orang-orang yang suka bekerja keras hingga mencapai keberhasilan. Sementara
para pemalas menjadi pencemburu sehingga mencari kesempatan untuk dapat
menjarah. Siapa saja tak punya kemampuan untuk menolak dilahirkan sebagai etnis
tertentu. Barangkali karena pengalaman hidup
yang pahit, sentimen etnis itu justru dipakai sebagai modal oleh Ko Han untuk
melangsungkan kehidupannya. Dia mungkin ingin membalik sentimen itu menjadi
simpati.” (Anwar, 2014: 138).
Keluarga
Ko Han pernah mengalami diskriminasi karena terlahir sebagai golongan
minoritas. Berkali-kali tempat usaha orang tua Ko Han dijarah dan dirusak
habis-habisan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Seringkali warga pribumi
merasa iri kenapa keturunan dari negara lain justru mencapai kesuksesan dan
menguasai perdagangan di berbagai sektor. Hal ini membuat mereka geram dan
tidak terima sehingga melakukan aksi anarkis yang merugikan orang banyak. Meski
selalu mendapat perlakuan tidak adil di negerinya sendiri, Ko Han yang hanya
lulusan SD memaknai segala macam peristiwa pahit dalam hidupnya dengan sangat
bijak. Dia tidak pernah menyimpan dendam, dia justru menyampaikan pesan
indahnya pluralitas di negeri ini lewat cara sederhana. Kalimat “Jawa, Cina,
Madura nggak masalah. Yang penting rasanya” ia gunakan sebagai jargon andalan
untuk menawar dagangannya kepada calon pembeli. Ko Han berjualan kue pastel
dengan berkeliling. Semangatnya untuk bertahan hidup tak pernah padam, dia
sangat gigih dan tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah. Semangat
Ko Han untuk bangkit dari keterpurukan seharusnya dapat dipahami orang-orang
yang masih membenci kaum seperti Ko Han untuk dijadikan panutan dalam mencapai
sebuah kesuksesan. Setiap manusia dari berbagai macam latar belakang etnis,
agama, atau budaya tentu mempunyai kepribadian baik dan buruk. Kita tidak
berhak merampas hak orang lain untuk mendapatkan kebahagiannya dengan alasan
perbedaan latar belakang.
kak cerpen ini di ciptakan siapa?
BalasHapus