Politik
dan Rasisme dalam Cerpen Gembritt Foury
Karya
M. Shoim Anwar
Perjalanan
kehidupan manusia berlangsung di masyarakat itu melingkupi semua segi-segi
sosial kehidupan. Hampir setiap pembicaraan yang ada dalam cerpen karya Shoim
Anwar ini mengungkapkan dengan jelas dan rinci permasalahan sosial yang terjadi
dalam masyarakat. Shoim Anwar dalam menampilkan gagasan dan pemikirannya
tentang manusia Indonesia modern dalam lingkup global, emansipatif, dan
dibingkai dengan permasalahan-permasalahan kehidupan sosial mutakhir, seperti
kebengisan kekuasaan politik, pelanggaran HAM, KKN.
Cerpen
ini bermuara pada munculnya kasus pelanggaran HAM yang menimpa keluarga
Gembritt Foury, seorang imigran Mobile, Alabana. Dia berdarah campuran. Ibunya
seorang kulit hitam dan ayahnya seorang kulit putih dan kasus intrik-intrik
politik.
Suatu
hari ibu Gembritt ditemukan di belakang rumah dalam keadaan luka parah , bahkan
hampir tewas. Inilah kali pertama tindakan rasisme dan pelanggaran HAM yang
dialami keluarga Gembritt. Di beberapa negara, nafas rasisme masih banyak
terjadi.
Kutipan
berikut menunjukkan bagaimana kekejaman politik, ambisi kekuasaan dan
keserakahan para pemimpin yang banyak terjadi di hampir seluruh negara:
“Apa?”
saya bertanya.
“Politik!”
jawabnya sambil meninggalkan jendela.
“Mengapa
politik?”
“Kata
orang, politik itu lading yang paling banyak ditaburi dosa karena ambisi
kekuasaan.”
“Kau
melihat begitu?”
“Tentu
saja! Mulanya berjanji akan memperjuangkan nasib rakyat. Tapi lama-lama rakyat
diperas. Kekeyaan negara diserap dan ditumpuk untuk anak cucunya dengan
didirikan perusahaan di mana-mana. Pemimpin ini memberikan jabatan-jabatan
penting pada segenap keluarga, kendati sebenarnya tidak becus. Mereka membentuk
jaringan-jaringan politis dan ekonomis….(halaman 150)
Karena hukum dan
politik tidak sesuai dengan kehendak masyarakat dan pada prakteknya bisa dibeli
dengan uang dan jabatan dalam pelaksanaannya, maka masyarakat akan melakukan
tindakan-tindakan yang menurutnya benar walaupun terkadang dinilai anarkis dan
merugikan kepentingan umum.
Tiga
hari setelah kepergian Gembritt, situasi Kuba mendidih. Tembakan sering
terdengar di mana-mana. Para mahasiswa turun ke broadway sambil meriakkan
yel-yel. Mereka menentang rezim dictator Fulgencio Batista maupun Gerardo
Machado. Dikabarkan pula bahwa di sekitar bandara Havana terjadi hal serupa.
Delapan mahasiswa tewas ditembak tentara, lainnya luka-luka. Sementara dari
kelompok sempalan yang didalangi Fidel Castro mengajukan protes keras terhadap
penguasa yang dianggap tiran itu.(halaman152-53)
Di saat aktivitas
Gembritt semakin intensif, muncullah teror-teror. Kematian-kematian silih
berganti. Bahkan hal yang paling mengejutkan adalah Gembritt ditemukan tewas di
apartemennya.
Malam
itu telepon di kamar Gembritt terus berdering tiap tiga menit sekali. Tapi
peneleponnya tak juga mau bicara. Tampaknya ia Cuma mau main-main, atau sengaja
menteror barangkali. (halaman 152)
Situasi
Havana semakin kacau. Yel-yel mahasiswa tambah berani di jalan-jalan.
Pertumpahan darah mulai terjadi antar tentara dan massa. (halaman 154)
Akhirnya
keinginan saya menjadi kuat untuk membuka kamar itu. Saya pun segera memasukkan
kunci ke lubangnya. Dan rontokklah jantung saya seketika: glarrr! Saya terkejut
alang kepalang. Saya melihat Gembritt terkapar di lantai. Tampak darah
berceceran dan sudah mulai mongering. Tampaknya darah itu bekas mengalir dari
dadanya. (halaman 154-55)
Daftar Pustaka
Anwar,
M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal.
Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa.
Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar