Selasa, 08 Juli 2014

Politik dan Rasisme dalam Cerpen Gembritt Foury Karya M. Shoim Anwar


Politik dan Rasisme dalam Cerpen Gembritt Foury
Karya M. Shoim Anwar

Perjalanan kehidupan manusia berlangsung di masyarakat itu melingkupi semua segi-segi sosial kehidupan. Hampir setiap pembicaraan yang ada dalam cerpen karya Shoim Anwar ini mengungkapkan dengan jelas dan rinci permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Shoim Anwar dalam menampilkan gagasan dan pemikirannya tentang manusia Indonesia modern dalam lingkup global, emansipatif, dan dibingkai dengan permasalahan-permasalahan kehidupan sosial mutakhir, seperti kebengisan kekuasaan politik, pelanggaran HAM, KKN.
Cerpen ini bermuara pada munculnya kasus pelanggaran HAM yang menimpa keluarga Gembritt Foury, seorang imigran Mobile, Alabana. Dia berdarah campuran. Ibunya seorang kulit hitam dan ayahnya seorang kulit putih dan kasus intrik-intrik politik.
Suatu hari ibu Gembritt ditemukan di belakang rumah dalam keadaan luka parah , bahkan hampir tewas. Inilah kali pertama tindakan rasisme dan pelanggaran HAM yang dialami keluarga Gembritt. Di beberapa negara, nafas rasisme masih banyak terjadi.
Kutipan berikut menunjukkan bagaimana kekejaman politik, ambisi kekuasaan dan keserakahan para pemimpin yang banyak terjadi di hampir seluruh negara:
“Apa?” saya bertanya.
“Politik!” jawabnya sambil meninggalkan jendela.
“Mengapa politik?”
“Kata orang, politik itu lading yang paling banyak ditaburi dosa karena ambisi kekuasaan.”
“Kau melihat begitu?”
“Tentu saja! Mulanya berjanji akan memperjuangkan nasib rakyat. Tapi lama-lama rakyat diperas. Kekeyaan negara diserap dan ditumpuk untuk anak cucunya dengan didirikan perusahaan di mana-mana. Pemimpin ini memberikan jabatan-jabatan penting pada segenap keluarga, kendati sebenarnya tidak becus. Mereka membentuk jaringan-jaringan politis dan ekonomis….(halaman 150)

Karena hukum dan politik tidak sesuai dengan kehendak masyarakat dan pada prakteknya bisa dibeli dengan uang dan jabatan dalam pelaksanaannya, maka masyarakat akan melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya benar walaupun terkadang dinilai anarkis dan merugikan kepentingan umum.
Tiga hari setelah kepergian Gembritt, situasi Kuba mendidih. Tembakan sering terdengar di mana-mana. Para mahasiswa turun ke broadway sambil meriakkan yel-yel. Mereka menentang rezim dictator Fulgencio Batista maupun Gerardo Machado. Dikabarkan pula bahwa di sekitar bandara Havana terjadi hal serupa. Delapan mahasiswa tewas ditembak tentara, lainnya luka-luka. Sementara dari kelompok sempalan yang didalangi Fidel Castro mengajukan protes keras terhadap penguasa yang dianggap tiran itu.(halaman152-53)

Di saat aktivitas Gembritt semakin intensif, muncullah teror-teror. Kematian-kematian silih berganti. Bahkan hal yang paling mengejutkan adalah Gembritt ditemukan tewas di apartemennya.
Malam itu telepon di kamar Gembritt terus berdering tiap tiga menit sekali. Tapi peneleponnya tak juga mau bicara. Tampaknya ia Cuma mau main-main, atau sengaja menteror barangkali. (halaman 152)
Situasi Havana semakin kacau. Yel-yel mahasiswa tambah berani di jalan-jalan. Pertumpahan darah mulai terjadi antar tentara dan massa. (halaman 154)
Akhirnya keinginan saya menjadi kuat untuk membuka kamar itu. Saya pun segera memasukkan kunci ke lubangnya. Dan rontokklah jantung saya seketika: glarrr! Saya terkejut alang kepalang. Saya melihat Gembritt terkapar di lantai. Tampak darah berceceran dan sudah mulai mongering. Tampaknya darah itu bekas mengalir dari dadanya. (halaman 154-55) 

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.


CERPEN “JAWA, CINA, MADURA NGGAK MASALAH. YANG PENTING RASANYA....”


Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas F “2010”
linadansenja.blogspot.com

KRITIK SASTRA
CERPEN “JAWA, CINA, MADURA NGGAK MASALAH.
YANG PENTING RASANYA....”

Cerpen ini sangat menarik, dari judulnya saja sudah membuat pembaca tersenyum dengan berbagai macam ekspektasi di benak masing-masing. Judul yang digunakan penulis cukup menggairahkan karena terkesan nakal dan erotis. Hal ini menjadi daya tarik yang kuat untuk mengundang rasa ingin tahu pembaca tentang isi cerpen tersebut. Memang sesuatu yang berbau erotisme selalu menjadi topik yang membuat mata langsung melek dan berbinar bagi sebagian besar orang. Selain judulnya yang mengundang rasa penasaran, hal lain yang menarik adalah isi cerita yang dapat dikaji menggunakan berbagai macam pendekatan, antara lain adalah feminisme dan sosiologi.
Dari kaca mata feminisme, novel ini menghadirkan nafas feminisme dari tokoh seorang istri yang suka menyuruh suaminya untuk membelikan perlengkapan kosmetik. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
“Tiap hari kok melayani melulu dan selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar sedikit leluasa bergerak.” (Anwar, 2014: 134).
Kutipan tersebut merupakan bentuk pemberontakan seorang istri yang menuntut kesetaraan kedudukan di dalam rumah tangga. Kekesalan sang istri karena capek dan bosan melayani suami setiap hari dia luapkan dengan menyuruh suaminya melakukan hal yang seharusnya dilakukan kaum wanita. Kegiatan membeli kosmetik bagi kaum pria tentu merupakan suatu hal yang dianggap memalukan karena menurunkan derajat kemaskulinannya. Bentuk pemberontakan tokoh istri kepada suaminya tersebut terbilang lucu karena tidak berupa perlawanan dengan sikap yang ekstrim atau perkataan yang kasar.
Sisi sosiologi dari cerpen ini merupakan sebuah bagian yang lebih menarik untuk diulas karena menghadirkan realitas sosial tentang kaum minoritas di negeri ini. Cerpen ini menghadirkan tokoh Ko Han yang merupakan pria keturunan Tionghoa yang tetap gigih menjalani hidup dengan kerja keras meski mengalamami perlakuan diskriminasi yang menyakitkan. Hal ini tampak dari kutipan berikut.
“Dia tadi itu Cina ya?”
Lelaki berbaju merah itu mengangguk.
“Cina dan masih muda kok menawarkan begituan,” kata saya. (Anwar, 2014: 136).

Kita yang merupakan warga pribumi selalu menyebut etnis tionghoa dengan sebutan Cina, padahal kita tahu bahwa mereka juga merupakan warga Indonesia yang diakui. Menyebut mereka dengan sebutan Cina merupakan bentuk diskriminasi karena dengan menyebut mereka seperti itu sama halnya dengan memunculkan sekat antara mayoritas dan minoritas. Sama saja kita belum bisa menerima adanya kesetaraan hak di dalam status kewarganegaraan yang sama. Kita tidak boleh membenci mereka karena mata sipit dan warna kulit, mereka juga ingin mendapat perlakuan yang sama karena memang sama-sama warga Indonesia. Hanya karena alasan perbedaan etnis kita tidak boleh memperlakukan orang lain dengan tidak adil.
Tokoh Ko Han dalam cerpen ini mempunyai kepribadian yang patut dijadikan teladan bagi kita. Meski mengalami berbagai macam kepahitan hidup, namun ia terus bangkit dan bangkit lagi. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.
“Sekarang saya berpikir, mengapa Ko Han selalu menyebut-nyebut Jawa, Cina, dan Madura ketika menawarkan. Ko Han dan keluarganya adalah korban huru-hara. Mereka adalah orang-orang yang suka bekerja keras hingga mencapai keberhasilan. Sementara para pemalas menjadi pencemburu sehingga mencari kesempatan untuk dapat menjarah. Siapa saja tak punya kemampuan untuk menolak dilahirkan sebagai etnis tertentu. Barangkali karena  pengalaman hidup yang pahit, sentimen etnis itu justru dipakai sebagai modal oleh Ko Han untuk melangsungkan kehidupannya. Dia mungkin ingin membalik sentimen itu menjadi simpati.” (Anwar, 2014: 138).

Keluarga Ko Han pernah mengalami diskriminasi karena terlahir sebagai golongan minoritas. Berkali-kali tempat usaha orang tua Ko Han dijarah dan dirusak habis-habisan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Seringkali warga pribumi merasa iri kenapa keturunan dari negara lain justru mencapai kesuksesan dan menguasai perdagangan di berbagai sektor. Hal ini membuat mereka geram dan tidak terima sehingga melakukan aksi anarkis yang merugikan orang banyak. Meski selalu mendapat perlakuan tidak adil di negerinya sendiri, Ko Han yang hanya lulusan SD memaknai segala macam peristiwa pahit dalam hidupnya dengan sangat bijak. Dia tidak pernah menyimpan dendam, dia justru menyampaikan pesan indahnya pluralitas di negeri ini lewat cara sederhana. Kalimat “Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya” ia gunakan sebagai jargon andalan untuk menawar dagangannya kepada calon pembeli. Ko Han berjualan kue pastel dengan berkeliling. Semangatnya untuk bertahan hidup tak pernah padam, dia sangat gigih dan tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah. Semangat Ko Han untuk bangkit dari keterpurukan seharusnya dapat dipahami orang-orang yang masih membenci kaum seperti Ko Han untuk dijadikan panutan dalam mencapai sebuah kesuksesan. Setiap manusia dari berbagai macam latar belakang etnis, agama, atau budaya tentu mempunyai kepribadian baik dan buruk. Kita tidak berhak merampas hak orang lain untuk mendapatkan kebahagiannya dengan alasan perbedaan latar belakang.

Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas “F” 2010
linadansenja.blogspot.com

KRITIK SASTRA
CERPEN “SURAT TERAKHIR”

Cerpen Surat Terakhir merupakan sebuah novel yang merepresentasikan sebuah konflik batin seorang suami yang sangat potensial memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Hal ini terjadi karena si suami masih larut dalam romansa kisah cintanya di masa lalu yang masih ingin ingin dia kenang dan dia rasakan. Kenangan terakhir berupa surat cinta dari mantan kekasihnya serta foto masih disimpan dan sering dibaca, bahkan foto mantan kekasihnya itu juga dia ciumi. Kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya setelah menikah juga tak mampu menghapus bayang-bayang mantan kekasihnya itu. Konflik batin yang dilematis dirasakan oleh sang suami.hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.
“Begitu segar perjalanan ini. Sebuah kesetiaan yang rasanya tak sanggup kuhapus dari sayap-sayap waktu. Semua muncul secara timbul tenggelam, dari tahun ke tahun. Tapi apakah itu namanya kesetiaan? Ataukah hanya romantisme masa lalu yang cengeng?”
“Kalau kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh keadaan,” aku membela diri.
“Jangan mengambinghitamkan keadaan. Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus.”
“Saya orang miskin. Beban saya untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai hati memperlakukan dia untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi dia sanggup menantimu sampai kapan pun.”
“Saya tak ingin orang yang saya cintai itu menderita karena penantian yang terlalu panjang. Sekali lagi, saya sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih kirim kartu lebaran setiap tahun.” (Anwar, 2014: 142).

Kutipan di atas merupakan konflik batin yang sangat bergejolak di dalam hati dan pikiran sang suami. Konflik batin tersebut telah meracuni logika dan pola berpikirnya. Dia terlalu menikmati perasaan cintanya yang dalam dan bisa dibilang cinta itu belum tamat, belum terselesaikan karena hingga saat dia menjadi seorang bapak dan suami pun cintanya masih sepenuhnya diperuntukkan bagi sang mantan. Kadang cinta memang bekerja dengan cara yang tidak bisa ditebak, bahkan terkadang melanggar norma. Cinta sang suami tersebut masih begitu dalam karena mereka dulu putus oleh keadaan, bukan karena adanya masalah dari mereka berdua. Jadi mereka terpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Dan perpisahan itu justru membuat cinta mereka semakin kuat.
Semua orang berhak untuk jatuh cinta dan juga untuk mengenang masa lalunya. Namun ketika seseorang sudah masuk dalam dunia pernikahan dan   membangun sebuah keluarga, mau tidak mau dia harus melepas semua kisah cintanya di masa lalu apa pun alasannya. Memang hal yang wajar bila terkadang seseorang ingin bernostalgia dengan indahnya kisah di masa lalu, tetapi hal itu cukup dinikmati di dalam hati dan benak sesaat saja bila kita sudah berada dalam dunia pernikahan. Kesalahan sang suami adalah masih menyimpan surat-surat cinta serta foto dari mantannya. Hal ini adalah pelanggaran yang besar dalam sebuah perkawinan karena pertanggungjawabannnya melibatkan campur tangan agama, moral, dan negara. Hal yang lebih esensial tentunya adalah perasaan sang istri dan anak-anak yang merasa terluka dan dikhianati. Suami tersebut terlalu naif dalam mengartikan cinta, cinta yang dia jalani dianggap sebagai sebuah simbol kesetiaan dan cinta sejati, padahal sebenarnya apa yang dia lakukan menyimbolkan rasa cinta yang belum mencerminkan sebuah kedewasaan bahkan cenderung konyol. Seorang suami harus mementingkan kebahagiaan anak dan istrinya, namun sosok suami dalam cerpen Surat Terakhir sangat jauh dari hal tersebut. Dia adalah sosok suami yang egois dan kekanak-kanakan.
Sikap suami seperti dalam cerpen tersebut tentu akan memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Hati perempuan mana yang tidak hancur saat harus menerima kenyataan bahwa suaminya masih memiliki perasaan yang dalam kepada mantan kekasihnya. Kemarahan sang istri saat menemukan setumpuk surat cinta dan foto mantan suaminya dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Anakmu sudah dua! Pakai surat-suratan segala. Nyimpan foto lagi!”
“Surat apa?”
“Ini” istriku menunjukkan setumpuk surat dan foto dari balik punggungnya. “Ngaku enggak!”
“Lihat tanggalnya. Itu surat ketika aku masih bujangan dulu.”
“Sama saja!”
“Kamu pasti ada main lagi!”
“Dengarkan,” aku memotong, “itu adalah masa laluku. Aku punya hak untuk mengenangnya. Kamu tak boleh merampas.”
“Itu namanya kamu egois. Pantas saja nama perempuan itu sering kau sebut dalam tidurmu!” (Anwar, 2014: 146).

Pertengkaran yang terjadi di atas menunjukkan sisi keegoisan dari sang suami. Sudah jelas tertangkap basah dan membuat kesalahan besar masih saja berkilah dan membela diri atas dasar keagungan masa lalu. Suami dalam novel ini perlu merenungi dan mempelajari lebih dalam lagi makna sebuah pernikahan serta menghargai keberadaan anak dan istri dalam keluarga. Segala sesuatu yang terjadi  di masa lalu baik yang membahagiakan atau pahit sekalipun selayaknya menjadi pelajaran menuju proses pendewasaan diri agar kita menjadi orang yang lebih bijak. Menikmati masa lalu yang hanya berupa keindahan bayangan semu justru membuat hidup yang kita jalani saat ini terasa tidak nyata dan tidak bermakna.


KRITIK SASTRA
CERPEN KUTUNGGU DI JARWAL

Cerpen ini bukanlah sebuah roman, melainkan sebuah catatan akhir seorang Pak tua mantan hakim suap yang ingin membersihkan diri dari debu-debu dosanya di masa lalu. Yang menarik adalah latar tempat di mana tokoh utama ingin menjemput ajal, yaitu sebuah kota bernama Jarwal. Kota ini dideskripsikan sebagai sebuah kota tua yang kering dan tandus, serta diibaratkan seperti kota mati yang kusam dan tidak menyimpan keindahan yang berarti. Keadaan geografis kota ini dapat dianalogikan dengan keadaan fisik dan jiwa tokoh utama. Jiwanya kering seperti haus kedamaian karena dosanya di masa lalu, raganya yang kian menua semakin memudarkan karisma karena tergerogoti usia. Kota Jarwal benar-benar mampu mewakili kondisi lahiriah dan batiniah tokoh utama.
Cerpen Kutunggu di Jarwal merepresentasikan kegelisahan pengarang terhadap potret hitam di negeri ini. Potret hitam tersebut adalah maraknya praktek suap yang kian merebak hingga ke institusi peradilan di Indonesia. Parahnya lagi, lembaga yang seharusnya menjadi penegak keadilan justru semakin luntur kredibilitasnya karena kepiawaiannya bersandiwara di jalur hukum. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut.
“Kami, tiga orang hakim dan seorang jaksa saat itu, yang biasanya dengan santai dan kelakar saling membantu menyusun skenario untuk disandiwarakan saat sidang karena pihak pihak yang berperkara sudah menyatakan “minta tolong”, kini harus super hati-hati.”
Kutipan di atas merupakan bagian dari kisah kelam tokoh utama yang merupakan seorang hakim yang gemar bermain suap di lembaga hukum. Tokoh ini dapat mewakili oknum-oknum di negeri ini yang moralitasnya sangat rendah dan tidak tahu diri. Mereka seakan lupa atau hilang ingatan bahwa tugas utama atas wewenang yang dimiliki seharusnya digunakan untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Namun, rayuan rupiah dengan mudah melunturkan kredibilitas mereka dan terus menimbun dosa atas kelalaiannya memperjuangkan keadilan.
Hal yang kurang dalam cerpen ini adalah penataan alur maju mundur yang kurang rapi. Saat terjadi flash back hingga kembali ke masa sekarang tidak ditandai dengan kata penunjuk waktu yang jelas. Entah itu dulu yang hanya sekedar dalam ingatan atau masa sekarang setelah mengingat peristiwa di masa lalu hanya ditandai dengan kata ‘suatu saat’. Selain itu, pada halaman 5 disebutkan kata-kata ‘istri’ dan ‘anakku’, begitu juga hingga halaman 8. Namun pada paragraf terakhir di halaman 8 juga disebutkan bahwa ibu dari anak-anaknya telah meninggal karena penyakit kanker. Hal inilah yang agak membingungkan. Selain itu, untuk menemukan makna dan pesan dari cerpen ini dengan gamblang tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca cerpen ini satu kali saja. Pembaca harus membaca berulang-ulang dan harus membalik lagi halaman terdahulu saat telah sampai ke halaman yang lebih jauh untuk menjawab kebingungan pembaca yang masih sulit meraba makna yang masih implisit.
Hal lain yang kurang adalah tidak hadirnya esensi humor atau sedikit kekonyolan dalam penceritaan. Kelakar tentang lima bungkus obat kuat menurut saya masih belum bisa membuat saya terpingkal. Sehingga pembaca harus menghabiskan lembar demi lembar dengan tumpukan kerutan di dahi. Mungkin harus disadari bahwa cerpen ini adalah kisah tentang penantian datangnya ajal yang disertai rasa ketakutan dan kepiluan. Tetapi menurut saya,  sastra merupakan simbol kebebasan serta penuh warna. Jadi tidak ada salahnya jika tercipta sebuah kekonyolan atau kelucuan di antara celah kesedihan. Jadi komposisi cerpen ini terasa kurang. Mungkin pengarang memang ingin menciptakan cerpen ini sebagai sebuah perenungan bagi pembacanya tanpa mengurangi keseriusan dalam menyelaminya.
Terlepas dari kekurangan yang ada, yang paling saya suka dari cerpen ini adalah jalannya alur yang tidak bisa ditebak. Terlebih lagi endingnya menjadi sebuah klimaks yang sangat mengejutkan. Dilema yang dimunculkan kepada tokoh utama untuk memilih melakukan dosa atau tidak dengan tawaran untuk menikahi perempuan yang membutuhkan pertolongan justru berakhir tragis dengan peristiwa bunuh diri. Cerpen ini ditutup dengan dramatis.