Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas “F” 2010
linadansenja.blogspot.com
KRITIK
SASTRA
CERPEN
“SURAT TERAKHIR”
Cerpen
Surat Terakhir merupakan sebuah novel
yang merepresentasikan sebuah konflik batin seorang suami yang sangat potensial
memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Hal ini terjadi karena si suami
masih larut dalam romansa kisah cintanya di masa lalu yang masih ingin ingin
dia kenang dan dia rasakan. Kenangan terakhir berupa surat cinta dari mantan
kekasihnya serta foto masih disimpan dan sering dibaca, bahkan foto mantan
kekasihnya itu juga dia ciumi. Kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya
setelah menikah juga tak mampu menghapus bayang-bayang mantan kekasihnya itu.
Konflik batin yang dilematis dirasakan oleh sang suami.hal ini dapat kita lihat
dari kutipan berikut.
“Begitu
segar perjalanan ini. Sebuah kesetiaan yang rasanya tak sanggup kuhapus dari
sayap-sayap waktu. Semua muncul secara timbul tenggelam, dari tahun ke tahun.
Tapi apakah itu namanya kesetiaan? Ataukah hanya romantisme masa lalu yang
cengeng?”
“Kalau
kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu
muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh
keadaan,” aku membela diri.
“Jangan
mengambinghitamkan keadaan. Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah
memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus.”
“Saya
orang miskin. Beban saya untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai
hati memperlakukan dia untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi
dia sanggup menantimu sampai kapan pun.”
“Saya
tak ingin orang yang saya cintai itu menderita karena penantian yang terlalu
panjang. Sekali lagi, saya sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih
kirim kartu lebaran setiap tahun.” (Anwar, 2014: 142).
Kutipan
di atas merupakan konflik batin yang sangat bergejolak di dalam hati dan
pikiran sang suami. Konflik batin tersebut telah meracuni logika dan pola
berpikirnya. Dia terlalu menikmati perasaan cintanya yang dalam dan bisa
dibilang cinta itu belum tamat, belum terselesaikan karena hingga saat dia
menjadi seorang bapak dan suami pun cintanya masih sepenuhnya diperuntukkan
bagi sang mantan. Kadang cinta memang bekerja dengan cara yang tidak bisa
ditebak, bahkan terkadang melanggar norma. Cinta sang suami tersebut masih
begitu dalam karena mereka dulu putus oleh keadaan, bukan karena adanya masalah
dari mereka berdua. Jadi mereka terpisah dalam keadaan masih saling mencintai.
Dan perpisahan itu justru membuat cinta mereka semakin kuat.
Semua
orang berhak untuk jatuh cinta dan juga untuk mengenang masa lalunya. Namun
ketika seseorang sudah masuk dalam dunia pernikahan dan membangun sebuah keluarga, mau tidak mau dia
harus melepas semua kisah cintanya di masa lalu apa pun alasannya. Memang hal
yang wajar bila terkadang seseorang ingin bernostalgia dengan indahnya kisah di
masa lalu, tetapi hal itu cukup dinikmati di dalam hati dan benak sesaat saja
bila kita sudah berada dalam dunia pernikahan. Kesalahan sang suami adalah
masih menyimpan surat-surat cinta serta foto dari mantannya. Hal ini adalah
pelanggaran yang besar dalam sebuah perkawinan karena pertanggungjawabannnya
melibatkan campur tangan agama, moral, dan negara. Hal yang lebih esensial
tentunya adalah perasaan sang istri dan anak-anak yang merasa terluka dan
dikhianati. Suami tersebut terlalu naif dalam mengartikan cinta, cinta yang dia
jalani dianggap sebagai sebuah simbol kesetiaan dan cinta sejati, padahal
sebenarnya apa yang dia lakukan menyimbolkan rasa cinta yang belum mencerminkan
sebuah kedewasaan bahkan cenderung konyol. Seorang suami harus mementingkan
kebahagiaan anak dan istrinya, namun sosok suami dalam cerpen Surat Terakhir sangat jauh dari hal
tersebut. Dia adalah sosok suami yang egois dan kekanak-kanakan.
Sikap
suami seperti dalam cerpen tersebut tentu akan memicu terjadinya konflik dalam
rumah tangga. Hati perempuan mana yang tidak hancur saat harus menerima
kenyataan bahwa suaminya masih memiliki perasaan yang dalam kepada mantan
kekasihnya. Kemarahan sang istri saat menemukan setumpuk surat cinta dan foto
mantan suaminya dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Anakmu sudah dua!
Pakai surat-suratan segala. Nyimpan foto lagi!”
“Surat apa?”
“Ini”
istriku menunjukkan setumpuk surat dan foto dari balik punggungnya. “Ngaku
enggak!”
“Lihat
tanggalnya. Itu surat ketika aku masih bujangan dulu.”
“Sama
saja!”
“Kamu
pasti ada main lagi!”
“Dengarkan,”
aku memotong, “itu adalah masa laluku. Aku punya hak untuk mengenangnya. Kamu
tak boleh merampas.”
“Itu
namanya kamu egois. Pantas saja nama perempuan itu sering kau sebut dalam
tidurmu!” (Anwar, 2014: 146).
Pertengkaran yang
terjadi di atas menunjukkan sisi keegoisan dari sang suami. Sudah jelas
tertangkap basah dan membuat kesalahan besar masih saja berkilah dan membela
diri atas dasar keagungan masa lalu. Suami dalam novel ini perlu merenungi dan
mempelajari lebih dalam lagi makna sebuah pernikahan serta menghargai
keberadaan anak dan istri dalam keluarga. Segala sesuatu yang terjadi di masa lalu baik yang membahagiakan atau
pahit sekalipun selayaknya menjadi pelajaran menuju proses pendewasaan diri
agar kita menjadi orang yang lebih bijak. Menikmati masa lalu yang hanya berupa
keindahan bayangan semu justru membuat hidup yang kita jalani saat ini terasa
tidak nyata dan tidak bermakna.
KRITIK
SASTRA
CERPEN
KUTUNGGU DI JARWAL
Cerpen
ini bukanlah sebuah roman, melainkan sebuah catatan akhir seorang Pak tua
mantan hakim suap yang ingin membersihkan diri dari debu-debu dosanya di masa
lalu. Yang menarik adalah latar tempat di mana tokoh utama ingin menjemput
ajal, yaitu sebuah kota bernama Jarwal. Kota ini dideskripsikan sebagai sebuah
kota tua yang kering dan tandus, serta diibaratkan seperti kota mati yang kusam
dan tidak menyimpan keindahan yang berarti. Keadaan geografis kota ini dapat
dianalogikan dengan keadaan fisik dan jiwa tokoh utama. Jiwanya kering seperti
haus kedamaian karena dosanya di masa lalu, raganya yang kian menua semakin memudarkan
karisma karena tergerogoti usia. Kota Jarwal benar-benar mampu mewakili kondisi
lahiriah dan batiniah tokoh utama.
Cerpen
Kutunggu di Jarwal merepresentasikan
kegelisahan pengarang terhadap potret hitam di negeri ini. Potret hitam
tersebut adalah maraknya praktek suap yang kian merebak hingga ke institusi
peradilan di Indonesia. Parahnya lagi, lembaga yang seharusnya menjadi penegak
keadilan justru semakin luntur kredibilitasnya karena kepiawaiannya
bersandiwara di jalur hukum. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut.
“Kami,
tiga orang hakim dan seorang jaksa saat itu, yang biasanya dengan santai dan
kelakar saling membantu menyusun skenario untuk disandiwarakan saat sidang
karena pihak pihak yang berperkara sudah menyatakan “minta tolong”, kini harus
super hati-hati.”
Kutipan
di atas merupakan bagian dari kisah kelam tokoh utama yang merupakan seorang
hakim yang gemar bermain suap di lembaga hukum. Tokoh ini dapat mewakili
oknum-oknum di negeri ini yang moralitasnya sangat rendah dan tidak tahu diri.
Mereka seakan lupa atau hilang ingatan bahwa tugas utama atas wewenang yang
dimiliki seharusnya digunakan untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Namun,
rayuan rupiah dengan mudah melunturkan kredibilitas mereka dan terus menimbun
dosa atas kelalaiannya memperjuangkan keadilan.
Hal
yang kurang dalam cerpen ini adalah penataan alur maju mundur yang kurang rapi.
Saat terjadi flash back hingga
kembali ke masa sekarang tidak ditandai dengan kata penunjuk waktu yang jelas.
Entah itu dulu yang hanya sekedar dalam ingatan atau masa sekarang setelah
mengingat peristiwa di masa lalu hanya ditandai dengan kata ‘suatu saat’.
Selain itu, pada halaman 5 disebutkan kata-kata ‘istri’ dan ‘anakku’, begitu
juga hingga halaman 8. Namun pada paragraf terakhir di halaman 8 juga
disebutkan bahwa ibu dari anak-anaknya telah meninggal karena penyakit kanker.
Hal inilah yang agak membingungkan. Selain itu, untuk menemukan makna dan pesan
dari cerpen ini dengan gamblang tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca
cerpen ini satu kali saja. Pembaca harus membaca berulang-ulang dan harus
membalik lagi halaman terdahulu saat telah sampai ke halaman yang lebih jauh untuk
menjawab kebingungan pembaca yang masih sulit meraba makna yang masih implisit.
Hal
lain yang kurang adalah tidak hadirnya esensi humor atau sedikit kekonyolan
dalam penceritaan. Kelakar tentang lima bungkus obat kuat menurut saya masih
belum bisa membuat saya terpingkal. Sehingga pembaca harus menghabiskan lembar
demi lembar dengan tumpukan kerutan di dahi. Mungkin harus disadari bahwa
cerpen ini adalah kisah tentang penantian datangnya ajal yang disertai rasa
ketakutan dan kepiluan. Tetapi menurut saya,
sastra merupakan simbol kebebasan serta penuh warna. Jadi tidak ada
salahnya jika tercipta sebuah kekonyolan atau kelucuan di antara celah kesedihan.
Jadi komposisi cerpen ini terasa kurang. Mungkin pengarang memang ingin
menciptakan cerpen ini sebagai sebuah perenungan bagi pembacanya tanpa
mengurangi keseriusan dalam menyelaminya.
Terlepas
dari kekurangan yang ada, yang paling saya suka dari cerpen ini adalah jalannya
alur yang tidak bisa ditebak. Terlebih lagi endingnya menjadi sebuah klimaks
yang sangat mengejutkan. Dilema yang dimunculkan kepada tokoh utama untuk
memilih melakukan dosa atau tidak dengan tawaran untuk menikahi perempuan yang
membutuhkan pertolongan justru berakhir tragis dengan peristiwa bunuh diri.
Cerpen ini ditutup dengan dramatis.