Selasa, 08 Juli 2014


Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas “F” 2010
linadansenja.blogspot.com

KRITIK SASTRA
CERPEN “SURAT TERAKHIR”

Cerpen Surat Terakhir merupakan sebuah novel yang merepresentasikan sebuah konflik batin seorang suami yang sangat potensial memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Hal ini terjadi karena si suami masih larut dalam romansa kisah cintanya di masa lalu yang masih ingin ingin dia kenang dan dia rasakan. Kenangan terakhir berupa surat cinta dari mantan kekasihnya serta foto masih disimpan dan sering dibaca, bahkan foto mantan kekasihnya itu juga dia ciumi. Kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya setelah menikah juga tak mampu menghapus bayang-bayang mantan kekasihnya itu. Konflik batin yang dilematis dirasakan oleh sang suami.hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.
“Begitu segar perjalanan ini. Sebuah kesetiaan yang rasanya tak sanggup kuhapus dari sayap-sayap waktu. Semua muncul secara timbul tenggelam, dari tahun ke tahun. Tapi apakah itu namanya kesetiaan? Ataukah hanya romantisme masa lalu yang cengeng?”
“Kalau kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh keadaan,” aku membela diri.
“Jangan mengambinghitamkan keadaan. Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus.”
“Saya orang miskin. Beban saya untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai hati memperlakukan dia untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi dia sanggup menantimu sampai kapan pun.”
“Saya tak ingin orang yang saya cintai itu menderita karena penantian yang terlalu panjang. Sekali lagi, saya sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih kirim kartu lebaran setiap tahun.” (Anwar, 2014: 142).

Kutipan di atas merupakan konflik batin yang sangat bergejolak di dalam hati dan pikiran sang suami. Konflik batin tersebut telah meracuni logika dan pola berpikirnya. Dia terlalu menikmati perasaan cintanya yang dalam dan bisa dibilang cinta itu belum tamat, belum terselesaikan karena hingga saat dia menjadi seorang bapak dan suami pun cintanya masih sepenuhnya diperuntukkan bagi sang mantan. Kadang cinta memang bekerja dengan cara yang tidak bisa ditebak, bahkan terkadang melanggar norma. Cinta sang suami tersebut masih begitu dalam karena mereka dulu putus oleh keadaan, bukan karena adanya masalah dari mereka berdua. Jadi mereka terpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Dan perpisahan itu justru membuat cinta mereka semakin kuat.
Semua orang berhak untuk jatuh cinta dan juga untuk mengenang masa lalunya. Namun ketika seseorang sudah masuk dalam dunia pernikahan dan   membangun sebuah keluarga, mau tidak mau dia harus melepas semua kisah cintanya di masa lalu apa pun alasannya. Memang hal yang wajar bila terkadang seseorang ingin bernostalgia dengan indahnya kisah di masa lalu, tetapi hal itu cukup dinikmati di dalam hati dan benak sesaat saja bila kita sudah berada dalam dunia pernikahan. Kesalahan sang suami adalah masih menyimpan surat-surat cinta serta foto dari mantannya. Hal ini adalah pelanggaran yang besar dalam sebuah perkawinan karena pertanggungjawabannnya melibatkan campur tangan agama, moral, dan negara. Hal yang lebih esensial tentunya adalah perasaan sang istri dan anak-anak yang merasa terluka dan dikhianati. Suami tersebut terlalu naif dalam mengartikan cinta, cinta yang dia jalani dianggap sebagai sebuah simbol kesetiaan dan cinta sejati, padahal sebenarnya apa yang dia lakukan menyimbolkan rasa cinta yang belum mencerminkan sebuah kedewasaan bahkan cenderung konyol. Seorang suami harus mementingkan kebahagiaan anak dan istrinya, namun sosok suami dalam cerpen Surat Terakhir sangat jauh dari hal tersebut. Dia adalah sosok suami yang egois dan kekanak-kanakan.
Sikap suami seperti dalam cerpen tersebut tentu akan memicu terjadinya konflik dalam rumah tangga. Hati perempuan mana yang tidak hancur saat harus menerima kenyataan bahwa suaminya masih memiliki perasaan yang dalam kepada mantan kekasihnya. Kemarahan sang istri saat menemukan setumpuk surat cinta dan foto mantan suaminya dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Anakmu sudah dua! Pakai surat-suratan segala. Nyimpan foto lagi!”
“Surat apa?”
“Ini” istriku menunjukkan setumpuk surat dan foto dari balik punggungnya. “Ngaku enggak!”
“Lihat tanggalnya. Itu surat ketika aku masih bujangan dulu.”
“Sama saja!”
“Kamu pasti ada main lagi!”
“Dengarkan,” aku memotong, “itu adalah masa laluku. Aku punya hak untuk mengenangnya. Kamu tak boleh merampas.”
“Itu namanya kamu egois. Pantas saja nama perempuan itu sering kau sebut dalam tidurmu!” (Anwar, 2014: 146).

Pertengkaran yang terjadi di atas menunjukkan sisi keegoisan dari sang suami. Sudah jelas tertangkap basah dan membuat kesalahan besar masih saja berkilah dan membela diri atas dasar keagungan masa lalu. Suami dalam novel ini perlu merenungi dan mempelajari lebih dalam lagi makna sebuah pernikahan serta menghargai keberadaan anak dan istri dalam keluarga. Segala sesuatu yang terjadi  di masa lalu baik yang membahagiakan atau pahit sekalipun selayaknya menjadi pelajaran menuju proses pendewasaan diri agar kita menjadi orang yang lebih bijak. Menikmati masa lalu yang hanya berupa keindahan bayangan semu justru membuat hidup yang kita jalani saat ini terasa tidak nyata dan tidak bermakna.


KRITIK SASTRA
CERPEN KUTUNGGU DI JARWAL

Cerpen ini bukanlah sebuah roman, melainkan sebuah catatan akhir seorang Pak tua mantan hakim suap yang ingin membersihkan diri dari debu-debu dosanya di masa lalu. Yang menarik adalah latar tempat di mana tokoh utama ingin menjemput ajal, yaitu sebuah kota bernama Jarwal. Kota ini dideskripsikan sebagai sebuah kota tua yang kering dan tandus, serta diibaratkan seperti kota mati yang kusam dan tidak menyimpan keindahan yang berarti. Keadaan geografis kota ini dapat dianalogikan dengan keadaan fisik dan jiwa tokoh utama. Jiwanya kering seperti haus kedamaian karena dosanya di masa lalu, raganya yang kian menua semakin memudarkan karisma karena tergerogoti usia. Kota Jarwal benar-benar mampu mewakili kondisi lahiriah dan batiniah tokoh utama.
Cerpen Kutunggu di Jarwal merepresentasikan kegelisahan pengarang terhadap potret hitam di negeri ini. Potret hitam tersebut adalah maraknya praktek suap yang kian merebak hingga ke institusi peradilan di Indonesia. Parahnya lagi, lembaga yang seharusnya menjadi penegak keadilan justru semakin luntur kredibilitasnya karena kepiawaiannya bersandiwara di jalur hukum. Hal ini dapat terlihat dari kutipan berikut.
“Kami, tiga orang hakim dan seorang jaksa saat itu, yang biasanya dengan santai dan kelakar saling membantu menyusun skenario untuk disandiwarakan saat sidang karena pihak pihak yang berperkara sudah menyatakan “minta tolong”, kini harus super hati-hati.”
Kutipan di atas merupakan bagian dari kisah kelam tokoh utama yang merupakan seorang hakim yang gemar bermain suap di lembaga hukum. Tokoh ini dapat mewakili oknum-oknum di negeri ini yang moralitasnya sangat rendah dan tidak tahu diri. Mereka seakan lupa atau hilang ingatan bahwa tugas utama atas wewenang yang dimiliki seharusnya digunakan untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Namun, rayuan rupiah dengan mudah melunturkan kredibilitas mereka dan terus menimbun dosa atas kelalaiannya memperjuangkan keadilan.
Hal yang kurang dalam cerpen ini adalah penataan alur maju mundur yang kurang rapi. Saat terjadi flash back hingga kembali ke masa sekarang tidak ditandai dengan kata penunjuk waktu yang jelas. Entah itu dulu yang hanya sekedar dalam ingatan atau masa sekarang setelah mengingat peristiwa di masa lalu hanya ditandai dengan kata ‘suatu saat’. Selain itu, pada halaman 5 disebutkan kata-kata ‘istri’ dan ‘anakku’, begitu juga hingga halaman 8. Namun pada paragraf terakhir di halaman 8 juga disebutkan bahwa ibu dari anak-anaknya telah meninggal karena penyakit kanker. Hal inilah yang agak membingungkan. Selain itu, untuk menemukan makna dan pesan dari cerpen ini dengan gamblang tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca cerpen ini satu kali saja. Pembaca harus membaca berulang-ulang dan harus membalik lagi halaman terdahulu saat telah sampai ke halaman yang lebih jauh untuk menjawab kebingungan pembaca yang masih sulit meraba makna yang masih implisit.
Hal lain yang kurang adalah tidak hadirnya esensi humor atau sedikit kekonyolan dalam penceritaan. Kelakar tentang lima bungkus obat kuat menurut saya masih belum bisa membuat saya terpingkal. Sehingga pembaca harus menghabiskan lembar demi lembar dengan tumpukan kerutan di dahi. Mungkin harus disadari bahwa cerpen ini adalah kisah tentang penantian datangnya ajal yang disertai rasa ketakutan dan kepiluan. Tetapi menurut saya,  sastra merupakan simbol kebebasan serta penuh warna. Jadi tidak ada salahnya jika tercipta sebuah kekonyolan atau kelucuan di antara celah kesedihan. Jadi komposisi cerpen ini terasa kurang. Mungkin pengarang memang ingin menciptakan cerpen ini sebagai sebuah perenungan bagi pembacanya tanpa mengurangi keseriusan dalam menyelaminya.
Terlepas dari kekurangan yang ada, yang paling saya suka dari cerpen ini adalah jalannya alur yang tidak bisa ditebak. Terlebih lagi endingnya menjadi sebuah klimaks yang sangat mengejutkan. Dilema yang dimunculkan kepada tokoh utama untuk memilih melakukan dosa atau tidak dengan tawaran untuk menikahi perempuan yang membutuhkan pertolongan justru berakhir tragis dengan peristiwa bunuh diri. Cerpen ini ditutup dengan dramatis.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar