Selasa, 08 Juli 2014

CERPEN “JAWA, CINA, MADURA NGGAK MASALAH. YANG PENTING RASANYA....”


Lina Pujihastuti
10-520-0301
Kelas F “2010”
linadansenja.blogspot.com

KRITIK SASTRA
CERPEN “JAWA, CINA, MADURA NGGAK MASALAH.
YANG PENTING RASANYA....”

Cerpen ini sangat menarik, dari judulnya saja sudah membuat pembaca tersenyum dengan berbagai macam ekspektasi di benak masing-masing. Judul yang digunakan penulis cukup menggairahkan karena terkesan nakal dan erotis. Hal ini menjadi daya tarik yang kuat untuk mengundang rasa ingin tahu pembaca tentang isi cerpen tersebut. Memang sesuatu yang berbau erotisme selalu menjadi topik yang membuat mata langsung melek dan berbinar bagi sebagian besar orang. Selain judulnya yang mengundang rasa penasaran, hal lain yang menarik adalah isi cerita yang dapat dikaji menggunakan berbagai macam pendekatan, antara lain adalah feminisme dan sosiologi.
Dari kaca mata feminisme, novel ini menghadirkan nafas feminisme dari tokoh seorang istri yang suka menyuruh suaminya untuk membelikan perlengkapan kosmetik. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
“Tiap hari kok melayani melulu dan selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar sedikit leluasa bergerak.” (Anwar, 2014: 134).
Kutipan tersebut merupakan bentuk pemberontakan seorang istri yang menuntut kesetaraan kedudukan di dalam rumah tangga. Kekesalan sang istri karena capek dan bosan melayani suami setiap hari dia luapkan dengan menyuruh suaminya melakukan hal yang seharusnya dilakukan kaum wanita. Kegiatan membeli kosmetik bagi kaum pria tentu merupakan suatu hal yang dianggap memalukan karena menurunkan derajat kemaskulinannya. Bentuk pemberontakan tokoh istri kepada suaminya tersebut terbilang lucu karena tidak berupa perlawanan dengan sikap yang ekstrim atau perkataan yang kasar.
Sisi sosiologi dari cerpen ini merupakan sebuah bagian yang lebih menarik untuk diulas karena menghadirkan realitas sosial tentang kaum minoritas di negeri ini. Cerpen ini menghadirkan tokoh Ko Han yang merupakan pria keturunan Tionghoa yang tetap gigih menjalani hidup dengan kerja keras meski mengalamami perlakuan diskriminasi yang menyakitkan. Hal ini tampak dari kutipan berikut.
“Dia tadi itu Cina ya?”
Lelaki berbaju merah itu mengangguk.
“Cina dan masih muda kok menawarkan begituan,” kata saya. (Anwar, 2014: 136).

Kita yang merupakan warga pribumi selalu menyebut etnis tionghoa dengan sebutan Cina, padahal kita tahu bahwa mereka juga merupakan warga Indonesia yang diakui. Menyebut mereka dengan sebutan Cina merupakan bentuk diskriminasi karena dengan menyebut mereka seperti itu sama halnya dengan memunculkan sekat antara mayoritas dan minoritas. Sama saja kita belum bisa menerima adanya kesetaraan hak di dalam status kewarganegaraan yang sama. Kita tidak boleh membenci mereka karena mata sipit dan warna kulit, mereka juga ingin mendapat perlakuan yang sama karena memang sama-sama warga Indonesia. Hanya karena alasan perbedaan etnis kita tidak boleh memperlakukan orang lain dengan tidak adil.
Tokoh Ko Han dalam cerpen ini mempunyai kepribadian yang patut dijadikan teladan bagi kita. Meski mengalami berbagai macam kepahitan hidup, namun ia terus bangkit dan bangkit lagi. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut.
“Sekarang saya berpikir, mengapa Ko Han selalu menyebut-nyebut Jawa, Cina, dan Madura ketika menawarkan. Ko Han dan keluarganya adalah korban huru-hara. Mereka adalah orang-orang yang suka bekerja keras hingga mencapai keberhasilan. Sementara para pemalas menjadi pencemburu sehingga mencari kesempatan untuk dapat menjarah. Siapa saja tak punya kemampuan untuk menolak dilahirkan sebagai etnis tertentu. Barangkali karena  pengalaman hidup yang pahit, sentimen etnis itu justru dipakai sebagai modal oleh Ko Han untuk melangsungkan kehidupannya. Dia mungkin ingin membalik sentimen itu menjadi simpati.” (Anwar, 2014: 138).

Keluarga Ko Han pernah mengalami diskriminasi karena terlahir sebagai golongan minoritas. Berkali-kali tempat usaha orang tua Ko Han dijarah dan dirusak habis-habisan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Seringkali warga pribumi merasa iri kenapa keturunan dari negara lain justru mencapai kesuksesan dan menguasai perdagangan di berbagai sektor. Hal ini membuat mereka geram dan tidak terima sehingga melakukan aksi anarkis yang merugikan orang banyak. Meski selalu mendapat perlakuan tidak adil di negerinya sendiri, Ko Han yang hanya lulusan SD memaknai segala macam peristiwa pahit dalam hidupnya dengan sangat bijak. Dia tidak pernah menyimpan dendam, dia justru menyampaikan pesan indahnya pluralitas di negeri ini lewat cara sederhana. Kalimat “Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya” ia gunakan sebagai jargon andalan untuk menawar dagangannya kepada calon pembeli. Ko Han berjualan kue pastel dengan berkeliling. Semangatnya untuk bertahan hidup tak pernah padam, dia sangat gigih dan tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah. Semangat Ko Han untuk bangkit dari keterpurukan seharusnya dapat dipahami orang-orang yang masih membenci kaum seperti Ko Han untuk dijadikan panutan dalam mencapai sebuah kesuksesan. Setiap manusia dari berbagai macam latar belakang etnis, agama, atau budaya tentu mempunyai kepribadian baik dan buruk. Kita tidak berhak merampas hak orang lain untuk mendapatkan kebahagiannya dengan alasan perbedaan latar belakang.

1 komentar: